BisnisKu · Tools

Budget 50/30/20 untuk UMKM

Framework sederhana untuk alokasi kas bulanan: 50% operasional, 30% pengembangan, 20% reserve (pajak + dana darurat + profit owner). Adaptasi metode klasik Elizabeth Warren untuk konteks UMKM Indonesia.
Pemasukan Bulan Ini
Total kas masuk dari penjualan, jasa, dll — sebelum biaya apa pun.
Bisa pakai rata-rata 3 bulan terakhir untuk patokan.
50%
Operasional
Rp 0
Aktual: Rp 0
30%
Pengembangan
Rp 0
Aktual: Rp 0
20%
Reserve
Rp 0
Aktual: Rp 0
50% — Operasional
Target Rp 0 · biaya jalan-nya usaha
Bahan baku, gaji staff & owner, sewa, listrik, gas, internet, transport, fee platform.
Total OperasionalRp 0
30% — Pengembangan
Target Rp 0 · investasi tumbuh
Alat baru, marketing & iklan, stock buffer, pelatihan, R&D produk, perbaikan toko.
Total PengembanganRp 0
20% — Reserve
Target Rp 0 · pajak + darurat + profit owner
Sisihkan pajak (PPh, PPN), dana darurat 6 bulan biaya, dan profit-take owner. Jangan disentuh untuk operasional rutin.
Total ReserveRp 0
Ringkasan Bulan Ini
PemasukanRp 0
OperasionalRp 0
PengembanganRp 0
ReserveRp 0
Sisa / Belum DialokasikanRp 0
Kenapa 50/30/20 untuk UMKM?

Metode 50/30/20 awalnya dipopulerkan Elizabeth Warren untuk personal finance. Kami adaptasi untuk UMKM Indonesia karena tiga alasan:

Catatan: Rasio 50/30/20 adalah patokan, bukan dogma. Usaha awal mungkin 70/20/10 (operasional berat); usaha mature bisa 40/30/30 (lebih banyak reserve). Yang penting: ada budget eksplisit, ada disiplin alokasi.

Contoh per kategori (kuliner, retail, jasa)

Kuliner / F&B home-based:

Ops: bahan baku (35%), gaji 1 helper (8%), gas+listrik (4%), kemasan (3%). Pengembangan: iklan IG/TikTok (10%), foto produk (5%), alat baru (15%). Reserve: pajak 0,5% (1%), dana darurat (10%), profit-take (9%).

Retail / toko fisik:

Ops: HPP barang (30%), gaji 2 SPG (10%), sewa (8%), listrik+internet (2%). Pengembangan: restock kategori best-seller (20%), promo & event (5%), display upgrade (5%). Reserve: pajak (2%), darurat (10%), profit (8%).

Jasa / konsultan / agency:

Ops: gaji tim (35%), tool subscription (5%), kantor coworking (5%), transport (5%). Pengembangan: marketing & sales (15%), training tim (8%), upgrade software (7%). Reserve: pajak PPh 21 + 0,5% (5%), darurat (8%), profit owner (12%).

FAQ — Mengelola Cashflow UMKM

Q: Saya selalu over di Operasional, apa salah?

Tidak salah, tapi tanda bahwa: (1) harga jual terlalu rendah relatif biaya, atau (2) ada kebocoran (waste bahan, gaji tidak produktif, sewa kemahalan). Audit dulu HPP per produk pakai Kalkulator HPP.

Q: Kalau pemasukan tidak stabil bulan-ke-bulan?

Pakai rata-rata 3–6 bulan terakhir sebagai patokan target. Jangan ubah target tiap bulan, susah disiplin. Bulan banjir order: kelebihan masuk ke Reserve. Bulan kering: pakai Reserve, jangan ambil dari Operasional.

Q: Profit owner masuk Reserve atau Operasional?

Tergantung. Jika Anda owner-operator (full-time di usaha), gaji wajar untuk waktu Anda masuk Operasional sebagai "gaji owner". Profit-take TAMBAHAN (bonus di atas gaji wajar) masuk Reserve.

Q: Apakah data aman?

Ya. Tool ini full client-side. Semua data tersimpan di browser Anda (localStorage), tidak dikirim ke server kami. Reset semua data lewat tombol di ringkasan jika ingin mulai dari nol.

Mau auto-budget jalan otomatis dari kasir Anda?
BisnisKu mencatat pemasukan harian dari kasir, otomatis split ke 3 bucket, dan kasih notifikasi kalau salah satu bucket nyaris habis. Plus AR aging, HPP per SKU, pajak 0,5% — semua satu app.
Coba BisnisKu Gratis 14 Hari
Disclaimer: Framework ini patokan praktis, bukan standar akuntansi. Untuk pelaporan formal (SPT, kredit bank, audit), gunakan jurnal pembukuan resmi atau sistem akuntansi.